72 hours.

Tuesday, November 24, 2009 at 4:00PM with my dad went to Jakarta by train. Clear sky, nice weather for long journey. I could see the amazing sunset through the window.

10:05PM, arrived at Gambir station, Jakarta. My younger brother and his girlfriend, kicked one’s heels for us. Sorry… that because there was stagnation at Jatinegara, more than 15 minutes. What an Indonesia railways!

10.57PM we arrived at his apartement in Kemayoran. After a short time for chitchat, we slept. OMG… feel so tired.

to be continued

Comments No Comments »

Pedih perih
rintih sedih
mataku pedih
hatiku perih
aku merintih
mengusir sedih…
karena
ikan koi
di kolam
mati
pohon mangga
di depan rumah
ditebang sudah…

Comments No Comments »

Akhir-akhir ini orang sibuk mencari sekolah buat anak-anaknya. Kemarin aku ditanya, “Mas, SMA yang bagus di Semarang di mana?”

Biasanya orang akan menjawab: SMA 1 atau SMA 5. Tetapi aku tidak. Jawabanku, “Tidak ada SMA bagus di Semarang.”

Orang yang bertanya tadi terenyak. Dan aku merasa tidak ada yang salah dengan jawabanku. Memang tidak ada SMA bagus di Semarang - bahkan juga di Jakarta, Yogya, ataupun di kota-kota besar lain di Jawa.

Kalau orang melihat sekolah bagus dari nilai UN yang tinggi, tidak sepenuhnya tepat. Lulusan sekolah-sekolah unggulan di kota-kota besar di Jawa yang nilainya bagus-bagus, bukanlah hal istimewa. Input yang bagus di kelas 1 (atau 13 sekarang), dengan guru dan fasilitas yang bagus, maka outputnya bisa dijamin bagus. Jadi ada yang tidak istimewa kan?

Sekolah yang bagus mungkin ada di luar Jawa, di Indonesia Timur misalnya. Di mana semua fasilitas sekolah terbatas, bahkan di bawah standar kelayakan… gurunya juga terbatas, ditambah inputnya yang mungkin kurang bagus, tetapi bisa menghasilkan output yang bagus. Inilah sekolah yang bagus! Tidak banyak sekolah yang seperti ini.

Input kurang bagus, fasilitas dan tenaga pendidik terbatas, tetapi output bagus (bukan diukur melulu dari kuantitas (nilai UN) tetapi juga kualitas (psikologi, moral, etik)… Inilah sekolah yang bagus!

Comments No Comments »

Kupu-kupuku
kupu-kupumu
aku kupu-kupumu
kupu-kupukukah kau?

Kau kupu-kupu, kau pukau aku
aku kupu-kupu, terpukau aku kah kau?

Kupu-kupumu
kupu-kupuku
kau bukan kupu-kupuku
kupu-kupumukah aku?

Aku kupu-kupu, kupukau kau
Kau kupu-kupu, terpukau aku ke kamu…

Comments 2 Comments »

Setiap berangkat dan pulang kerja, sebentuk bunyi selalu singgah di telingaku – mungkin juga di telinga kalian. Bunyi klakson!

Di kota-kota besar yang penuh kendaraan bermotor di Indonesia, nyaris sulit mencari hari tanpa bunyi klakson. Bunyi yang bising dan kadang mengagetkan itu menjadi pengiring pagi, siang, sore, bahkan malam hari.

Klakson, pada mulanya berfungsi sebagai sarana untuk memberitahukan kepada orang lain mengenai posisi kita di jalan. Namun sekarang ini klakson telah berubah fungsi menjadi sarana intimidasi, sarana untuk menunjukkan kekuasaan atas pemakai jalan lainnya. Kalau klakson dulu berarti: “Hati-hati, saya ada di sini!” maka sekarang klakson berarti: “MINGGIR LU! JALAN MILIK GUA, TAHU!”

Ketika angka yang menghitung detik-detik peralihan warna lampu dari merah ke hijau baru sampai ke 5, 4, atau 3… bunyi klakson dari kendaraan di barisan belakang sudah saling menyalak. Tidak cukup hanya sekali dibunyikan, melainkan berkali-kali klakson dipencet dan menimbulkan kegaduhan. Mereka meminta agar kendaraan di depannya berjalan. Mereka tidak menyadari, bahwa arus kendaraan dari arah lain belum sepenuhnya bebas.

Atau ketika ada rombongan motor gede yang lewat. Bak pemilik jalan, mereka menggunakan klakson untuk menyingkirkan pemakai jalan lainnya – seolah-olah hanya mereka yang membayar pajak untuk pembangunan jalan. Padahal bukan tidak mungkin, di antara pemilik motor gede ada juga yang ngemplang bayar pajak.

Contoh lainnya cukup banyak. Pada waktu kampanye di jalan, misalnya. Rombongan pengantar mobil jenazah, misalnya. Dan tambahkan lagi contoh lainnya. Saya yakin kalian tidak sulit mendapatkannya.

Apakah penggunaan klakson yang tanpa aturan ini memang ciri khas negara berkembang? Fenomena seperti ini tidak hanya di Indonesia. Di India, Thailand, dan negara-negara berkembang lainnya memiliki persamaan. Penindasan dan penjajahan terjadi di jalan-jalan raya negara berkembang. Sepeda motor mencoba menyingkirkan pejalan kaki. Mobil berusaha menyingkirkan sepeda motor. Bus menyingkirkan mobil dan kendaraan lain yang lebih kecil, dan seterusnya.

Sekali peristiwa di Jepang ada kisah nyata, sekitar tahun 90-an, seorang yang tidak sabar membunyikan klakson dengan maksud agar kendaraan di depannya minggir. Alih-alih kendaraan berjalan, si pengemudi malah turun dan menembak orang yang membunyikan klakson tadi. Ternyata pengemudi kendaraan yang ada di depan adalah seorang yakuza.

Tentu kita tidak ingin kejadian ekstrem seperti itu terjadi di jalan raya kita. Jangan sampai orang kehilangan nyawa lantaran membunyikan klakson. Juga jangan sampai orang lain terbangkitkan kemarahannya karena mendengar bunyi klakson kita yang tidak nyaman didengarkan.

Jalan raya di Jepang terkenal sopan dan tidak bising. Jalan raya memberi kenyamanan bagi pemakai jalan – bahkan bagi pejalan kaki sekalipun. Bunyi klakson jarang terdengar. Sebagian besar pemakai jalan patuh pada peraturan yang berlaku.

Kesimpulannya, gunakan klakson pada tempatnya dan bunyikan seperlunya saja!

Jika kalian ingin mendapat jalan bebas kendaraan, saran saya:

  1. Jadilah presiden, wakil presiden, atau pejabat tinggi negara.
  2. Naiklah tank atau panser.
  3. Naiklah ambulans.

Meskipun untuk yang ketiga (ambulans) saya tidak begitu yakin karena sekarang ini banyak pemakai jalan sering tidak mau memberi jalan bagi ambulans!

Comments No Comments »

I am thirsty of you, Lord

Fill me up with your love, my Shepherd

I don’t want miracles

Just you, Lord

I just want You!

Comments No Comments »

Kata Paole Freire: Viver e Lutar. Hidup adalah berjuang.

Jika kita berani hidup, maka harus berani juga berjuang. Sekarang sudah penghujung tahun 2008. Biasanya orang yang baik akan melakukan refleksi atas perjalanan hidup yang telah dilewati selama setahun. Mengingat kembali resolusi yang dicanangkan di awal tahun 2008, apakah sudah tercapai atau hanya tinggal menjadi resolusi belaka.

Seberapa kuat kita berjuang tahun ini? Mungkin ada yang berjuang sangat hebat. Sebagai contoh: lihat saja antrian para ibu rumah tangga mengharap minyak tanah yang sudah langka karena dikonversi dengan gas. Lihat lagi antrian mereka ketika gas lenyap di pasaran. Mereka berjuang bukan hanya demi diri mereka, bukan cuma hidup mereka sendiri, melainkan seluruh isi rumah tangganya, kehidupan keluarganya.

Kontras sekali dengan mahasiswa yang terlibat tawuran hanya karena perkara sepele, karena warisan “dendam” dari angkatan terdahulu, dan perkara remeh lainnya - yang dengan mudah diterjemahkan sebagai harga diri. Mereka berdarah-darah hanya untuk kemegahan diri sendiri, meski berkedok solidaritas. Harga diri macam apa sih yang diperjuangkan dalam tawuran buta semacam itu? Kehidupan siapa yang diperjuangkan? Semestinya sebagai kaum intelektual, mereka bisa lebih mengedepankan otak daripada otot. Biasanya cuma binatang yang mengakhiri perselisihan dengan berkelahi. Mereka yang berjuang hanya untuk mencari harga diri dengan kekerasan, sesungguhnya telah kehilangan harga diri.

Krisis ekonomi yang menghajar Amerika Serikat, dan akhirnya bagai kartu domino, merembet ke seluruh dunia, adalah karena satu-dua orang yang menyalahgunakan kekuasaan mereka di bidang keuangan. Memperkaya diri sendiri, tidak bisa dikategorikan sebagai perjuangan untuk hidup. Itu adalah ketamakan dan ketamakan ibaratnya adalah orang yang meminum air laut. Semakin direguk, semakin menghauskan. Ketamakan seperti sumur tanpa dasar. Ketamakan bukan perjuangan untuk hidup, melainkan perenggut kehidupan.

Tahun 2009 kian mendekat. Hidup dan kehidupan yang bagaimanakah yang akan kita perjuangkan?

Comments No Comments »

Tadi sore iseng-iseng saya duduk-duduk di tepi jalan. Waktu menunjuk pukul 18.47 WIB. Pandangan saya lempar ke jalan raya. Sementara matahari sudah menyembunyikan wajahnya di balik cakrawala beberapa saat lalu.

Perhatian saya tersita pada lalu-lalang sepeda motor dan pengendara maupun pemboncengnya. Dari pengamatan saya, ada beberapa yang dapat saya simpulkan. Dan kesimpulan saya sebagai berikut:

Pengendara sepeda motor di Semarang (mungkin juga di kota lain) lebih suka memakai helm di siang hari. Di siang hari persentase pengendara tanpa helm kecil. Hampir semua memakai helm. Mungkin takut kena razia pengendara tanpa helm. Sedangkan di malam hari, persentase pengendara tanpa helm meningkat. Bahkan perbandingannya bisa 2:3. Jadi beberapa pengendara sepeda motor di Semarang patuh pada peraturan lalu-lintas hanya kalau ada yang mengawasi.

Pengendara sepeda motor menganggap pemakai jalan yang lain memiliki indera keenam. Maksudnya, mereka belok dan tukar jalur tanpa memberi tanda, seperti lampu sein tidak dinyalakan. Mereka menganggap orang lain sudah tahu tanpa diberi tahu. Hebat ya ?!

Pengendara sepeda motor menganggap pemakai jalan yang lain memiliki mata Superman. Maksudnya mereka sanggup ngebut di malam hari tanpa menyalakan lampu sepeda motor. Jadi mereka merasa aman-aman saja ngebut dengan lampu sepeda motor padam karena menganggap pemakai jalan lainnya bisa melihat kehadiran mereka dengan jelas.

Pengendara sepeda motor memiliki tulang tengkorak lebih tebal dari Pithecanthropus erectus (manusia kera berjalan tegak). Mereka merasa tidak akan pecah tengkoraknya jika terjadi tabrakan fatal, sehingga aman-aman saja tanpa helm. Bahkan satu sepeda motor bertiga-berempat (dengan anak kecil) tanpa helm masih OK saja.

Pengendara sepeda motor serasa menjadi Valentino Rossi. Jalan raya dianggap sirkuit balap. Tanpa penjelasan pun rasanya kalian sudah paham.

Pengendara sepeda motor buta warna. Lampu lalu-lintas menyala merah pun tidak digubris. Tancep gas abis! Atau… jangan-jangan mereka masih keturunan banteng bodoh yang jika melihat warna merah, malah terpacu untuk melaju. Entahlah. Yang jelas sih ngakunya mereka masih manusia.

Pengendara sepeda motor memiliki empat mata. Ini bukan nama program salah satu TV swasta yang kemarin sempat dihentikan produksinya lho. Maksudnya, mereka tanpa kaca spion pun bisa melihat keadaan lalu-lintas di belakang mereka. Jadi mereka punya sepasang mata di batok kepala belakang. Wuih! Hebat!

Nah, saya jadinya agak sedikit paham mengapa begitu sulit menegakkan disiplin di negeri ini. Orang-orangnya saja tidak menghargai keselamatan diri sendiri, mana bisa diharap untuk disiplin. Sungguh bangsa yang aneh…

Comments 3 Comments »

Kau awali dengan apa hari ini? Seulas senyumankah? Secubit cemberutkah? Segunung amarahkah?

Jika engkau mengawali harimu dengan senyuman, maka sepanjang harimu akan terasa menyenangkan. Engkau bertemu orang lain dan kauberi senyuman. Maka engkau akan menerima senyuman pula sebagai balasnya. Andaikan tiada senyuman kaudapat dari orang lain, tidak ada ruginya. Kau telah berbuat kebaikan. Bukankah perbuatan baik tidak mengharap balasan?

Tersenyumlah.

Jika engkau mengawali harimu dengan amarah, maka suramlah sepanjang harimu. Orang-orang yang kaujumpai pun akan terlihat bermusuhan denganmu. Padahal sumber permusuhan ada dalam dirimu. Rugilah dirimu karena engkau kehilangan kesempatan untuk bersama dengan orang lain - bahkan juga kebersamaan dengan orang yang kau sayangi.

Jadi mengapa tidak kau awali dengan senyuman?

Comments No Comments »

Ketika engkau tidak menampakkan dirimu, ke manakah aku harus mencarimu?

Manakala engkau tiada bersinar, kepada siapakah kehangatan kudapatkan?

Bila senyummu memudar, suram hari-hariku

Matahariku,

bersinarlah, tampakkanlah dirimu, tersenyumlah

hangatkan daku, terangi hari-hariku

Comments No Comments »